Paradoks Ayam Ternak Modern

Pada era kontemporer, kita kerap memuji diri sendiri dengan yakin bahwa kita hidup sebagai manusia modern yang paling maju selama sejarah. Kita berbicara tentang penguasaan dan inovasi, namun kapasitas teknik individu rata-rata dengan dunia material justru sangat dangkal. Jika lapisan infrastruktur, logistik, dan sistem-sistem tak kasatmata disingkirkan, sebagian besar manusia saat ini memiliki keterampilan yang lebih mendekati manusia pra-Zaman Batu dibandingkan dengan peradaban teknologis yang konon mereka huni. Hari ini kita berburu dan meramu bukan di hutan, melainkan di supermarket dan pasar digital dengan harapan menemukan apa yang kita cari. Tanpa disadari bahwa kita mengonsumsi tanpa memahami proses-proses yang memungkinkan konsumsi itu terjadi.

Kondisi ini tidak jauh berbeda dari hewan ternak yang dibudidayakan dengan skala industrial. Seekor ayam yang dibesarkan di fasilitas peternakan modern hidup sepenuhnya di dalam lanskap teknologi canggih: sistem pemberian pakan otomatis, pengendalian iklim, seleksi genetik, jaringan transportasi, sampai rantai pasok global. Namun ayam tersebut tidak memiliki konseptualisasi atas sistem-sistem ini, tidak memahami bagaimana biji-bijian ditanam, mesin dibuat, atau listrik dialirkan. Ia tidak mampu menciptakan kembali atau memengaruhi kondisi keberadaannya; ia hanya dapat bertahan hidup di dalamnya. Dengan cara yang serupa, manusia modern hidup di dalam lingkungan teknologi yang sangat kompleks sambil tetap tidak mengetahui fondasi-fondasinya.

Makanan hadir tanpa pengetahuan tentang pertanian. Listrik mengalir tanpa pemahaman tentang pembangkitan atau jaringan distribusinya. Dunia digital muncul dari perangkat-perangkat yang cara kerjanya buram bagi hampir semua penggunanya. Berapa banyak orang yang mampu melebur logam, membuat busana dia sendiri, atau bahkan menyalakan api dari bahan mentah tanpa alat industri? Jumlahnya sangat sedikit. Kelangsungan hidup kita bergantung pada pembagian kerja yang begitu ekstrem sehingga tidak ada satu individu pun yang dapat memahami secara bermakna—apalagi mereproduksi—keseluruhan sistem tersebut.

Hal ini tidak berarti kita bodoh, tetapi menunjukkan bahwa kita terlepas dari dunia yang menopang kita. Kita adalah makhluk biologis yang terjerat dalam jejaring proses-proses dengan kompleksitas nyaris tak terbatas, melampaui skala pemahaman manusia. Kendali tersebar dan terfragmentasi ke dalam institusi dan mesin. Sistem berfungsi justru karena tidak ada seorang pun yang memahaminya secara utuh, namun kondisi ini pula yang membuatnya sangat rapuh. Gangguan di satu bidang dapat menjalar secara tak terduga ke bidang lainnya. Perubahan iklim, solar flare, pandemi ataupun kejadian dahsyat lain bisa langsung membalikkan keadaan kita kembali bergantung kepada kemampuan teknik masing-masing, bukan lagi kepada kemampuan sistem.

Dalam pengertian ini, manusia modern mungkin lebih terasing dari dunianya dibandingkan masyarakat mana pun sebelumnya. Di desa jaman pra-modern, tidak sedikit rumah tangga yang mampu membuat hampir apapun yang mereka butuhkan, dari makanan sampai busana, peralatan maupun arsitektur. Kita menghuni lanskap teknologi yang tidak kita bangun sendiri, tidak sepenuhnya kita jelaskan, dan tidak mampu kita bangun kembali jika ia runtuh. Seperti ternak dalam kandang mekanis, kita hidup di dalam suatu kecerdasan yang lebih besar daripada diri kita sendiri—yang menopang kita, membatasi kita, dan dalam keseluruhannya tetap berada di luar jangkauan pemahaman kita. Seberapa jauh bisa dibilang bahwa ayam yang kita makan adalah ‘ayam maju?’ Apa lebih tepat kita sendiri dinamakan manusia ternakan?