Salah satu fenomena menarik dalam film horor Indonesia kontemporer adalah kembalinya sensasi horor yang datang dari dekade 1980an. Kita melihat produksi ulang film seperti Bayi Ajaib dan puncaknya tergambar dalam rekonstruksi sosok Suzzana, salah satu ikon horor Indonesia yang juga turut dibentuk oleh dekade 1980an, yang dihadirkan kembali melalui seri film Suzzanna yang diperankan oleh Luna Maya di bawah produksi Soraya Intercine Films: Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur (2018), Suzzanna: Malam Jumat Kliwon (2023), Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026). Kengerian dan ketakutan dalam film horor kita hari ini adalah sesuatu yang banyak kita pinjam dari ekspresi sebuah era yang tampaknya belum rela untuk kita akhiri.
Di tengah seluruh trend tersebut kita layak untuk menyebut nama Joko Anwar sebagai salah satu figur yang turut mengetengahkan kembalinya horor Indonesia dekade 1980an. Salah satu karya besarnya yang cukup laris adalah pembuatan ulang dari Pengabdi Setan (Sisworo Gautama Putra, 1980). Joko Anwar bahkan berniat membuat sebuah jagat dari film tersebut, saat ini ia telah memproduksi dua seri film Pengabdi Setan: Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017) dan Pengabdi Setan 2 Communion (Joko Anwar, 2022). Pada tahun 2019, Joko Anwar menulis film Ratu Ilmu Hitam (Kimo Stamboel, 2019) yang terinspirasi dari film dengan judul yang sama Ratu Ilmu Hitam garapan Lilik Sudijo dan Imam Tantowi pada tahun 1981.
Dari sekian banyak proyek nostalgia kebangkitan horor 1980-an, saya tertarik untuk melihat lebih dekat film Ratu Ilmu Hitam yang sering luput dari perhatian utama namun menyimpan potensi yang paling menarik untuk dibedah. Ratu Ilmu Hitam versi Kimo Stamboel dan Joko Anwar cukup berani untuk membongkar struktur naratif film dari hanya sekedar meniru atau melanjutkan versi lamanya. Dari titik itulah kita bisa turut menganalisa pergeseran nilai budaya bahkan politik yang fundamental antara era Orde Baru dan Paska-Orde Baru.
***
“Kau bukan dewa yang dilarang membalas dendam.”
“Kau akan kujadikan ratu ilmu hitam demi untuk membalas dendam.”
Ratu Ilmu Hitam pada tahun 1981 bercerita mengenai Murni (Suzzanna), seorang gadis desa paska kegagalan kisah cintanya dengan Kohar (Alan Nuary) yang lebih memilih untuk menikahi Baedah (Siska Widowati) putri dari kepala desa. Pernikahan Kohar dan Baedah yang dirayakan oleh seluruh desa menjadi sebuah bencana. Baedah selalu histeris ketakutan setiap kali melihat Kohar, Reog yang didatangkan sebagai hiburan juga tetiba mengamuk. Atas inisiatif kepala desa, dipanggilah seorang dukun untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Sang dukun hanya bisa memberikan sebuah petunjuk bahwa dalang dari kekacauan itu datang dari barat. Kohar dengan kharismanya sebagai pemuda yang dapat mempersunting anak kepala desa memprovokasi penduduk, bahwa dalang dari semua itu adalah Murni, mantan kekasihnya. Penduduk desa yang telah terprovokasi Kohar akhirnya mempersekusi Murni, membakar rumahnya, lalu melemparkan Murni ke sebuah jurang. Saat itulah Murni diselamatkan oleh Gendon (W.D Mochtar) seorang dukun teluh.
Bagian inti dari film ini adalah pembalasan dendam Murni kepada para penduduk desa yang terlibat dalam persekusi terhadapnya dan ibunya. Murni telah diwariskan ilmu hitam yang sakti oleh Gendon. Satu per satu penduduk desa dieksekusi oleh Murni dengan cara yang mengerikan. Adegan-adegan kematian para penduduk desa yang dibunuh oleh Murni memang agak tidak biasa untuk film di era 1980an, tidak heran kemudian jika film ini memenangkan sinematografi terbaik di Festival Film Indonesia 1982. Pembalasan dendam Murni tidak selesai dengan kematian Kohar. Apalagi Gendon juga mempunyai motifnya sendiri, untuk membawa seluruh penduduk desa ke dalam bencana dan kekufuran, ia terus saja memengaruhi Murni bahwa pembalasan dendamnya belum usai. Seluruh pengaruh ilmu hitam atas desa tersebut didisrupsi dengan kehadiran Permana (Teddy Purba), seorang santri yang pulang merantau. Permana menjadi sebuah simbol kebaikan, taat beragama, modern karena telah mengadopsi hidup urban. Permana memengaruhi banyak penduduk desa yang tampaknya masih terbelakang karena percaya dengan takhayul (dukun, ilmu hitam) untuk kembali kepada nilai-nilai agama, dengan memperbaiki sebuah surau yang ketika awal kedatangannya ke desa tersebut tampak reyot dan ditinggalkan.
Sisanya tentu sudah dapat ditebak, Permana yang menyimbolkan kebaikan dipaksa menghadapi Murni dan Gendon yang mewakili keburukan. Dengan sedikit pelintiran alur di akhir bahwa ternyata Permana adalah kakak dari Murni yang belasan tahun sebelumnya diadopsi oleh seorang pemilik pesantren. Tentu saja pada akhirnya kebaikan Permana sudah pasti menang melawan keburukan. Sebuah formula hitam putih hasil dari nilai-nilai yang dikampanyekan oleh Orde Baru. Permana juga hadir sebagai gambaran tentang pentingnya peran lelaki dewasa dalam keluarga Orde Baru. Murni yang di awal cerita digambarkan hanya tinggal dengan ibunya memiliki posisi yang lemah di dalam struktur masyarakat, dengan begitu menjadi rawan untuk dapat dibujuk dan terperosok dalam keburukan yang hitam.
***
“Aku ingin menciptakan neraka! Tau kenapa? Karena aku tidak yakin setelah mati ada neraka, jadi akan kupastikan kalian mendapatkannya!”
Berbeda dengan pendahulunya Ratu Ilmu Hitam versi 2019 dan memang tidak memiliki keterkaitan cerita, berpusat pada tiga orang sahabat Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan), yang dibesarkan di sebuah panti asuhan. Selepas dewasa ketika ketiganya tampak telah sukses menjalani kehidupan di kota, mereka kembali dengan membawa keluarga dan pasangannya ke panti asuhan untuk menjenguk Pak Bandi, pengurus panti asuhan yang sedang sakit keras. Kembalinya ketiga sahabat menjadi tragedi, ketiganya harus menghadapi teror yang tidak mereka mengerti darimana datangnya. Mereka harus kembali mengingat masa lalu kelam mereka di panti asuhan untuk dapat mengerti mengenai apa yang sedang mereka alami.
Jika Ratu Ilmu Hitam versi Lilik Sudijo langsung menghadirkan perspektif sang ratu, dalam versi terbarunya perspektif itu dilihat dari kacamata korban, sedangkan sang ratu ilmu hitam tidak mendapat tempat yang banyak dalam film. Ketika film menjelang akhir barulah kupasan-kupasan misteri itu terbuka. Hanif, Anton, Jefri beserta keluarga dan pasangan mereka termasuk Pak Bandi merupakan subjek utama dari plot balas dendam yang dirancang oleh sang ratu ilmu hitam Murni (Putri Ayudya). Murni adalah anak dari Ibu Mirah (Ruth Marini) yang merupakan salah satu pengurus panti yang terbunuh karena ulah Pak Bandi. Pak Bandi sebenarnya adalah seorang pemerkosa berantai yang menodai banyak anak-anak perempuan di panti. Pak Bandi menghasut Hanif, Anton dan Jefri untuk membantunya menyingkirkan Bu Mirah dengan menyebarkan tuduhan bahwa Bu Mirah adalah seorang pemilik ilmu hitam, padahal yang ingin Bu Mirah lakukan adalah melindungi anak-anak perempuan panti asuhan dari Pak Bandi.
***
Apa yang menyatukan Ratu Ilmu Hitam versi Lilik Sudijo dengan versi Kimo Stamboel dan Joko Anwar adalah tema soal dendam. Pembalasan dendam yang seringkali mengambil bentuk kekerasan ekstrim terhadap tubuh juga konsisten dalam kedua film tersebut. Yang membedakan adalah Ratu Ilmu Hitam versi terbaru hadir dengan tema dan plot cerita yang sangat kompleks dan rumit dibanding pendahulunya.
Dalam Ratu Ilmu Hitam versi Joko Anwar tidak ada peran agama yang menjadi simbol kebaikan, bahkan dalam beberapa percakapan kita bisa melihat kecenderungan yang ateistik seperti ucapan Murni kepada Hanif dan istrinya Nadya (Hannah Al Rashid): “Aku bukan hanya ingin menghukum. Aku ingin menciptakan neraka! Tau kenapa? Karena aku tidak yakin setelah mati ada neraka, jadi akan kupastikan kalian mendapatkannya!”. Dialog seperti ini tidak akan mungkin lolos dari sensor ketat negara Orde Baru. Ratu Ilmu Hitam Joko Anwar juga memperlihatkan adegan dan cerita yang jelas secara visual, bagaimana anak-anak dilukai fisiknya, hal seperti ini juga jarang kita temui dalam film Indonesia Orde Baru, dimana nilai Orde Baru memandang bahwa anak-anak adalah cerminan masa depan yang harus dilindungi. Itu mengapa dalam Ratu Ilmu Hitam tahun 1981, ketika Murni berhasil menculik bayi dari Baedah dan Kohar dan membawanya ke tempat tinggalnya, pada akhirnya dikembalikan oleh Murni tanpa suatu luka apapun. Tidak peduli sebesar apa dendam Murni pada Kohar, bahkan Gendon yang tampaknya juga punya dendam kesumat tersendiri kepada seluruh warga desa membujuk Murni untuk mengembalikan bayi itu kepada keluarga Baedah dan Kohar.
Satu lagi perbedaan yang mungkin sangat layak untuk disebut adalah perbedaan latar yang mencolok antara 1981 dan 2019. Ratu Ilmu Hitam tahun 1981 berlatar pedesaan lengkap dengan gambaran struktur masyarakatnya, dimana lantas persoalan teror ilmu hitam Murni juga menjadi sebuah persoalan kolektif desa, dalam Ratu Ilmu Hitam tahun 2019 teror Murni terasa begitu menjadi personal dan terurbanisasi. Panti asuhan digambarkan sebagai sebuah bangunan yang kokoh berdiri sendiri namun tidak terhubung dengan lingkungan sekitarnya. Tidak ada kolektifitas yang digambarkan di tahun 2019.