Besok ya, Setelah Corona

Sebuah esai refleksi sosiologis tentang waktu

Bumi boleh saja kembali ke posisi yang sama dalam perputarannya terhadap matahari setelah ia 365 kali memutari dirinya sendiri. Tapi waktu tidak dimulai dari saat dimana matematika dan astronomi memutuskan untuk menghitung pergerakan bumi dan benda langit, lalu membaginya ke dalam kategori-kategori kalender. Konsep waktu telah dimiliki masyarakat prasejarah yang mendasarkan pembagiannya pada aktivitas sehari-hari dan pemaknaan kolektif.

Musim menanam padi, musim panen, dan musim berburu, misalnya, adalah satuan waktu yang terbentuk dari siklus aktivitas yang kemudian membentuk rutinitas lebih pendek seperti waktu tidur dan waktu bangun pada masyarakat agraris yang tidak berkorelasi dengan perhitungan jam. Waktu bangun dan waktu tidur membentuk pola-pola interaksi dan kegiatan sosial yang lain dalam kelompok masyarakat yang memiliki konsepsi waktu kolektif yang sama. Karenanya, selain aspek kuantitatif waktu yang bersifat natural, waktu memiliki aspek kualitatif yang dihasilkan dari konstruksi sosial.

Rekaman video percakapan menarik tentang waktu diunggah di Youtube oleh akun Menjadi Manusia. 5 orang dari latar belakang berbeda terlibat diskusi kelompok terarah yang dipandu dengan pertanyaan-pertanyaan pemantik. Pembahasan tentang waktu menjadi penting terutama saat ini, ketika Januari belum lama usai dan banyak orang tengah terlibat dalam pengalaman kolektif yang sama, yaitu Pandemi Covid-19. Unggahan video yang berjudul “#TitikTemu tentang Waktu yang Tidak Akan Terulang” menjadi acuan tulisan ini dalam menarik hubungan-hubungan waktu sebagai faktor metafisik yang mengikat keberadaan fisik kita dalam kurungan kekinian.

Waktu dalam Makna Sosialnya

Pitirim Sorokin dan Robert Merton (1937) menjadi salah satu yang pertama menekankan pentingnya aspek waktu dalam penelitian sosiologis melalui tulisan mereka, Social-time: A Methodological and Functional Analysis. Esai tersebut dimulai dengan pernyataan yang sangat kuat: no concept of motion is possible without the category of time. Artinya kehidupan bahkan kehidupan sosial pun memiliki aspek waktu yang juga bermain dalam proses perubahannya.  Konsep waktu ini tidak selalu melekat pada perhitungan astronomis tapi pada kehidupan sosial dimana individu merujuk waktu menggunakan kegiatan atau kejadian di sekitar mereka, yang disebut time reckoning. Sorokin dan Merton mendefinisikan waktu yang mengekspresikan perubahan atau pergeseran fenomena sosial berdasarkan fenomena sosial lain yang dijadikan sebagai poin referensi sebagai social time atau waktu sosial. Artinya waktu memiliki makna sosial (social meaning) yang berasal dari pemaknaan subjektif.

Tahun 2020 menjadi signifikan karena menjadi tahun dimana virus corona menyerang dan berimbas pada semua aspek kehidupan penduduk bumi. Pandemi menyatukan masyarakat global pada satu pengalaman kolektif yang sama. 2020 sebagai keterangan waktu mendapatkan makna sosial yang berbeda dibanding tahun-tahun lainnya. Percakapan dalam video mengidentifikasi tahun 2020 sebagai tahun yang ‘fucked up’, tahun yang menyadarkan bahwa ‘kita hidup di dunia yang uncertain’ dan momen dimana seorang peserta ‘sadar tentang mana orang yang sayang sama kita’. Salah satu komentar juga mengatakan bahwa 2020 adalah ‘fase kehidupan tergelap yang pernah saya alami’.

Dalam konteks perubahan sosial, waktu sebagai representasi makna sosial adalah faktor dominan. Sorokin dan Merton mengelaborasi pemaknaan waktu yang spesifik ini sebagai penanda dan kulminasi atas pengalaman yang sudah terjadi sehingga mempengaruhi tindakan seseorang. Kesan subjektif atas waktu mendorong kemunculan perasaan, seperti ‘optimis’ dan ‘takut’, sebagai respon atas kemungkinan-kemungkinan di masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu yang akhirnya berpengaruh pada tindakan individu. Pembatasan jarak fisik selama 9 bulan membuat salah satu peserta diskusi merencanakan liburan. Tindakan-tindakan ini akhirnya menjadi dinamika tersendiri dalam kehidupan sosial, dimana orientasi waktu terbentuk dari image of the future yang berlandaskan pengalaman masa lalu. 

Makna waktu yang lain adalah sebagai sumber daya, sebagaimana dipaparkan oleh Max Heirich (1964) dalam tulisannya tentang waktu dan perubahan sosial. Waktu sebagai sumber daya berhubungan dengan jumlah dan sifatnya yang sekali digunakan tidak bisa diambil kembali. Karenanya waktu menjadi objek yang langka dan berharga. Judul video yang memuat frasa ‘tentang waktu yang tidak akan terulang’ mengindikasikan dimensi waktu sebagai sumber daya yang terbatas, langka, dan hanya berjalan maju. Percakapan dalam video juga menyebutkan bahwa waktu ‘ada harganya’, waktu itu ‘kesempatan’, dan ‘segala sesuatu butuh waktu’.

Tahun 2020 yang diwarnai pandemi membuat orang sadar bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas. Hal ini menjadi pertimbangan bagi individu dalam bertindak. Misalnya karena tidak tahu batas waktu hidup yang dimiliki, maka seseorang memilih untuk ‘menikmati kebersamaan dengan keluarga’ dan ‘melakukan hal-hal menyenangkan’. Waktu menjadi sumber daya yang langka. Namun kelangkaan waktu juga bersifat subjektif, bergantung pada bagaimana interpretasi subjektif mengukur penggunaannya. Ketika suatu perubahan dinilai lambat, maka waktu menjadi sumber daya yang punya ukuran banyak atau besar. Sebuah komentar penonton video mengatakan bahwawaktu itu terasa lambat, tapi tiba-tiba berlalu begitu aja dengan cepat’. Sejalan dengan komentar tersebut, salah satu peserta diskusi juga berkata bahwa ia berharap 2021 ‘menjadi tahun yang lambat’ sehingga memberinya ‘kesempatan untuk menikmati hidup’, mengingat 2020 tidak memberinya kesempatan untuk itu.

Sebuah komentar lain yang menarik dari video tersebut berkata ‘Januari, Februari, covid, Desember’. Penggunaan covid sebagai pengganti Maret hingga November menandakan peristiwa temporal yang pemaknaannya terhubung dengan kondisi sebelum dan setelahnya. Waktu menjadi setting, menjadi representasi konfigurasi banyak pola dalam satu periode kolektif tertentu. Konteks yang senada dapat kita jumpai pada istilah seperti ‘angkatan corona’ dimana sebutan itu terikat aspek waktu, yaitu ketika pandemi berlangsung.

Setelah Corona

Masyarakat primitif memahami waktu cenderung pada orientasi masa lalu dan masa sekarang. Hal ini karena pemahaman waktu di masyarakat primitif berangkat dari aktivitas repetitif yang dilakukan secara kolektif. Masa depan menjadi konsep waktu yang abstrak dan hanya menjadi tetap atau fixed seiring perkembangan intelektual manusia. Rasionalisasi tindakan berdasarkan pemahaman atas ukuran waktu terjadi setelah masyarakat mengalami evolusi sosial menjadi masyarakat modern.

Baru-baru ini masyarakat Indonesia, bahkan global, juga menciptakan sebuah konsep waktu baru, yaitu ‘setelah corona’. Dalam percakapan harian yang bersifat langsung maupun di media sosial, banyak orang menggunakan waktu ‘setelah corona’ untuk mewakilkan suatu waktu yang abstrak sebagai rujukan waktu untuk melakukan berbagai perencanaan. ‘Corona’ adalah rujukan waktu saat ini dan ‘setelah corona’ merujuk pada suatu waktu di masa depan. Hal ini mengindikasikan bahwa waktu di masa depan secara sadar dihubungkan dengan waktu sekarang, yang artinya apa yang terjadi di masa depan bisa diciptakan dari apa yang dilakukan saat ini. Demi stabilitas di masa depan, rasionalisasi pada saat ini diperlukan.

Werner Bergmann (1992) menulis bahwa orientasi terhadap masa depan menimbulkan sejumlah implikasi dalam struktur sosial. Ia menjelaskan bahwa hal itu berhubungan dengan persepsi terhadap masa depan sebagai tempat dimana terdapat segala kemungkinan. Masa depan memberikan kebebasan bagi individu yang aktif, selama keamanannya dijamin dengan ketersediaan stabilitas faktor-faktor yang berpengaruh pada kehidupan, seperti agama, politik, atau ekonomi. Namun di saat yang sama kemungkinan-kemungkinan itu menimbulkan rasa tidak aman (insecurity) ketika banyak faktor berada di luar kendali. Implikasinya, ada usaha-usaha yang dilakukan untuk mengendalikan faktor-faktor di masa depan berdasarkan kalkulasi di masa sekarang.

2021 sudah pasti datang karena waktu berjalan terus, namun 2021 tidak serta merta menjadi ‘setelah corona’ hanya karena 2020 diidentifikasi dengan ‘corona’. ‘Setelah corona’ tetap menjadi rujukan waktu yang abstrak karena kejadian corona yang belum berakhir.  Akibatnya ada usaha-usaha untuk menjadikan waktu yang abstrak itu menjadi waktu yang tetap, yang terprediksi, dan di bawah kontrol. Di level institusi atau organisasi, dampaknya bisa sangat luas karena berpengaruh pada perencanaan kebijakan. Sedangkan di level individu, misalnya, ketidakpastian atas masa depan mempengaruhi keputusan untuk berinvestasi saham dan aset seperti yang dikatakan oleh beberapa peserta diskusi dalam rekaman video.

Liburan, pengaturan pola hidup sehat, dan beragam rencana antisipasi kita lakukan untuk bersiap menghadapi hari dimana ‘setelah corona’ tidak lagi jadi waktu yang abstrak, tapi berubah menjadi ukuran waktu yang tetap yang bisa kita tandai dengan angka-angka kalender. Selama hal itu belum terjadi, dalam merencanakan apapun kita masih akan bersembunyi di balik kata “Besok ya, setelah corona.”