Drama Start Up: Produksi Mimpi dan Alienasi

Produksi drama Korea Selatan tak ketinggalan mengikuti pergantian zaman. Tema-tema besar seperti konflik keluarga dan romansa remaja didaur ulang sedemikian rupa nyaris sebelum konsumsi drama Korea mencapai titik jenuh. Transisi masyarakat digital ikut membuka peluang-peluang baru bagi drama Korea, baik dari segi pasar maupun konten cerita.

Seperti halnya di beragam industri lain, generasi milenial sebagai bagian dominan dari masyarakat digital menjadi target pasar utama atas dasar tingkat konsumerisme dan paparan teknologi. Anggota-anggota terakhir generasi milenial bersama dengan anggota-anggota tertua generasi Z kini sebagian besar tengah menjalani pekerjaan pertama atau kedua mereka setelah menyandang gelar sarjana. Mereka optimis, memiliki ekspektasi tinggi, dan sedang semangat-semangatnya mengidentifikasi diri berdasarkan impian dan gairah tentang sosok ideal mereka di masa depan. Di saat yang sama juga memiliki ambisi untuk membuktikan diri, di samping adanya rasa tidak percaya diri dan kenaifan tinggi: potret yang dominan ditunjukkan oleh tokoh-tokoh dalam drama Korea bertemakan semangat muda.

Belum lama ini drama Start Up menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Di Twitter, tagar yang berkaitan dengan drama tersebut selalu menjadi trending topic di hari Minggu dan Senin, sehari pasca penayangan dua episodenya. Drama yang ditayangkan di tvN dan didistribusikan juga oleh Netflix pada setiap akhir pekan berhasil menggaet minat penggemar-penggemar baru drama Korea, termasuk di Indonesia. Penyebab popularitasnya salah satunya adalah kesesuaian tema dan konten drama dengan generasi milenial dan gen Z yang menjadi target pasar utama.

Dalam perhelatan drama Korea Selatan, drama dengan latar masyarakat digital tergolong baru. Namun Start Up bukan drama pertama yang mengusung tema tersebut. Beberapa kali industri drama Korea Selatan tampaknya mencoba memperbarui konten mereka sesuai kondisi masyarakat Korea saat ini, dimana paparan teknologi informasi sudah mengena ke segala aspek kehidupan. Artikel ini mencoba mengintip penggambaran masyarakat digital yang diwakili generasi milenial melalui dua drama produksi Korea Selatan, yaitu Start Up dan Search:WWW.

Produksi Mimpi

Melalui drama Start Up, kita berkenalan dengan Seo Dalmi, Nam Dosan, Won Injae, dan Han Jipyeong. Penonton dibawa memasuki dunia teknologi ketika keempat tokohnya dipertemukan dalam sebuah program inkubator bisnis digital berjudul Sandbox (semacam Silicon Valley-nya Korea). Di dalam Sandbox Dalmi, Dosan, dan Injae berkompetisi mengembangkan model bisnis di bidang kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin dengan Jipyeong menjadi mentor sekaligus manajer investasi berkepala dingin.

Penggunaan istilah-istilah yang sangat tech savvy seperti hackathon, venture capital, burn rate, artificial intelligence, machine learning, dan sebagainya sebenarnya membuat drama ini memiliki pasar yang khusus. Tampaknya hal ini juga disadari oleh tim produksi sehingga mereka memberikan penekanan yang agak berlebih pada konten percintaan dan hubungan keluarga yang biasa ada di hampir semua drama untuk menjangkau pasar yang lebih besar. Namun terlepas dari konflik percintaan yang sangat khas drama Korea, keempat tokoh tadi dikisahkan berusaha bertahan dan meraih sukses dalam masyarakat digital Korea Selatan yang maju secara teknologi.

Kecerdasan Dalmi dalam strategi pemasaran tidak mendapatkan apresiasi yang layak dari perusahaan tempatnya bekerja karena latar belakang pendidikannya yang hanya lulusan SMA. Ia menyadari bahwa sebesar apapun kontribusinya pada perusahaan, ia tidak akan bisa meraih posisi tinggi dalam perusahaan yang beroperasi secara konvensional. Dosan, yang digadang-gadang sebagai pemuda jenius IT nyatanya hanya sesosok pemuda rendah diri akibat sikap naif yang mengantarnya pada banyak kegagalan. Bersama Injae yang berambisi membuktikan diri dan lepas dari bayang-bayang ayahnya, ketiga tokoh tersebut melihat Sandbox sebagai jalan keluar.

Sandbox dalam drama Start Up menjadi metafora sebuah tempat dimana mimpi-mimpi milenial diciptakan. Dunia teknologi digambarkan dengan gemerlap kembang api, lampu-lampu estetik, interior industrial, dan kode-kode serta grafik pada monitor yang mengintimidasi tapi juga eksklusif, menarik, menantang. Sandbox menawarkan kompetisi egaliter dimana siapapun bisa berkesempatan mendapatkan investasi besar dan bimbingan untuk mengembangkan ide bisnis, mengesampingkan latar belakang keluarga, pendidikan, dan sebagainya.

Selain dilihat sebagai dunia yang menawarkan kesetaraan, dunia digital dianggap bisa menyelesaikan semua permasalahan. Termasuk ketika Samsan Tech yang dipimpin Dalmi dan Dosan menciptakan NoonGil. NoonGil adalah aplikasi yang membantu orang yang penglihatannya bermasalah dengan kecerdasan buatan untuk mengenali objek-objek menggunakan kamera dan suara dari telepon pintar pengguna.

Di titik ini seolah semua permasalahan bisa diselesaikan dengan aplikasi digital. Namun prinsip-prinsip kapitalisme juga tetap membayangi. Suatu aplikasi yang bisa berguna untuk banyak orang, bagaimana caranya ia mendapat keuntungan? Sandbox bukan inkubator sosial dan NoonGil yang dikembangkan Samsan Tech sebagai perusahaan rintisan membutuhkan investasi yang besar. Siapa yang mau berinvestasi untuk aplikasi yang pada dasarnya dibuat untuk charity?

Mimpi-mimpi ideal Dosan dan Dalmi untuk membangun perusahaan yang sukses dan di saat yang sama berguna bagi banyak orang harus kandas di hadapan kuasa pemilik modal. Baik Dalmi dan Dosan harus menelan pembelajaran pahit bahwa ide bisnis digital yang canggih dan bermanfaat pun pada akhirnya harus berkompromi dengan kekuatan kapital.

Alienasi

Di tengah kecanggihan teknologi dan masyarakat yang menuntut integrasi sosial tinggi, generasi milenial Korea Selatan berusaha mencari celah untuk mewujudkan mimpi-mimpi ideal mereka dalam dunia kerja. Tingkat turnover yang tinggi terjadi ketika perusahaan dianggap gagal memenuhi ekspektasi milenial atas apresiasi, imbal balik finansial, dan work-life balance. Pencarian atas mimpi-mimpi ideal ini mendorong Simon Sinek menuding milenial sebagai tough to manage, like to being entitled, self-interested, unfocused. Karenanya ketika bisnis rintisan digital bermunculan dengan slogan-slogan perubahan dan menunjukkan bagaimana ekspektasi mereka adalah hal yang bisa diwujudkan, segera saja perusahaan-perusahaan rintisan itu menarik perhatian talenta-talenta terbaik dari generasi ini.

Lalu sejauh mana ekspektasi-ekspektasi itu bersambut?

Search:WWW yang tayang tahun 2019 adalah drama yang mewakili kegundahan generasi awal milenial yang sekarang usianya berada di akhir tigapuluhan. Memiliki pekerjaan yang bergaji tinggi di perusahaan digital, berpakaian keren untuk berangkat kerja, lingkungan kantor yang cozy dan kekinian, proses kerja yang kreatif dan cekatan, serta selalu selalu pulang larut malam adalah kesan yang ditampilkan dengan kuat sebagai khas pekerja perusahaan digital. Gambaran dalam Search:WWW barangkali adalah apa yang dimaksud sebagai kesuksesan yang ingin mereka dapatkan.

Tammy, Scarlet, Brian, dan teman-temannya di perusahaan web portal Barro bersaing dengan Unicon yang dikepalai oleh Song Gagyeong. Barro dan Unicon, meski sama-sama perusahaan berbasis digital, mencitrakan budaya organisasi yang jauh berbeda. Sementara Unicon mencitrakan perusahaan yang konvensional dan kaku, Barro menunjukkan citra sebaliknya: interior kantor yang tidak bersekat, warna-warna yang ceria, fashion karyawan yang kasual, dan gaya sapaan dimana semua karyawan diperlakukan setara tanpa sekat usia dan jabatan. Tidak ada konflik keluarga yang sentimental yang digambarkan dalam drama ini atau kejadian-kejadian dramatis yang berlebihan. Semua tokohnya sibuk berkutat dalam persaingan membawa perusahaan masing-masing menjadi web portal nomor 1 di Korea sehingga bekerja keras lebih dari 15 jam sehari terkesan sebagai hal yang wajar dan sudah seharusnya dilakukan di industri dimana kecepatan dan perubahan adalah tuntutan harian.

Berbeda dengan Start Up yang lebih banyak bicara impian, Search:WWW lebih menggambarkan apa yang terjadi setelah mimpi-mimpi itu sudah berhasil diraih. Bekerja keras bukan lagi berorientasi untuk sukses, namun suatu rutinitas mengejar target yang dilakukan berulang-ulang untuk dapat bertahan di industri. Berlalunya masa muda yang penuh impian dan tergantikan rutinitas kerja harian ditunjukkan melalui adegan ketika Scarlet menulis pengumuman bahwa layanan microblogging yang disediakan Barro, yang dulu pernah ia perjuangkan dengan bekerja lebih dari 20 jam sehari, akan dihentikan karena sudah tidak relevan dengan kebutuhan pasar. Juga saat tokoh Song Gagyeong mengingat masa-masa mudanya yang bersemangat dan empatik dan membandingkan dengan keadaan dirinya sekarang yang harus bergelut dengan konflik kepentingan dalam perusahaan. Sementara itu, tokoh Tammy telah sepenuhnya mendedikasikan hidupnya untuk bekerja dan tidak bisa memikirkan hal lain di luar pekerjaannya sampai hadirnya Park Morgan yang menunjukkan bahwa ada acara hidup lain dimana ia bisa memberi ruang untuk kebahagiaannya sendiri.

Konflik dikemas apik dan cukup dalam tentang gaya hidup pekerja perusahaan digital. Isu-isu pemasaran dan dunia IT seperti isu privasi pengguna dan manipulasi ranking kata kunci pencarian juga dibahas cukup dalam berikut keterlibatan pemerintah dalam industri teknologi informasi. Terlepas dari dramatisasi adegan, tokoh-tokoh itu menunjukkan adanya perubahan dari masa muda yang naif ke sosok dewasa mereka yang realistis melalui pergulatan prinsip dan kenyataan. Adegan yang memberi impresi cukup kuat ditunjukkan pada episode ke-12 dimana Scarlet dan Tammy terlibat percakapan tentang makna kerja keras yang mereka lakukan.

Pencarian Makna

Transformasi digital membuat segalanya lebih cepat, lebih mudah, dan di saat yang sama membuat orang merasa lelah dan menjauh dari proses-proses yang manusiawi. Franco ‘Bifo’ Berardi membungkus hal ini dalam konsepnya semio-kapitalisme, dimana kapitalisme telah mempengaruhi subjektivitas dan sumber daya batin kita. Praktek kapitalisme dalam industri digital mengubah hasil produksi menjadi sesuatu yang bukan lagi benda melainkan produk pengetahuan dan hal-hal yang hanya bisa dikonsumsi pikiran tanpa bisa disentuh. Sebagai dampaknya, industri pun ‘membeli’ tenaga kerja bukan sebagai paket utuh tubuh dan pikiran. Pikiran dan waktu ditukar dengan upah, mengesampingkan tubuh dan mengakibatkan mutasi dalam ruang psikologis ketika keduanya tidak berjalan beriringan. Seperti yang dialami Tammy dan Scarlet, tidak banyak waktu dan ruang tersisa bagi mereka untuk memenuhi hak-hak tubuh karena sebagian besarnya sudah diakuisisi kerja pikiran.

Yang menarik adalah bagaimana baik tubuh dan pikiran juga menunjukkan tanda-tanda pemberontakan atas proses kapitalisme dalam masyarakat digital ini. Dorongan untuk bekerja terus-menerus pada akhirnya mencapai titik jenuh yang berbeda di masing-masing orang. Tahun 2015 jumlah penjualan LP di UK menembus rekor tertingginya sejak 1994. Di Korea Selatan, produsen LP kembali beroperasi setelah 13 tahun, merespon kembalinya minat pasar terhadap pemutar lagu analog itu. Popularitas Podcast juga merupakan bentuk dibawanya kembali analog kepada pendengar-pendengar milenial yang tidak lagi mendengarkan radio namun lelah menggunakan lebih dari satu panca indera untuk mencerna informasi.

Jika Anda penggemar drama Korea, pasti tahu drama Reply series. Sutradara Shin Wonho dengan sukses membuat aliran baru dalam kancah drama Korea dengan membawa setting kehidupan masyarakat analog Korea Selatan dalam Reply 1997, Reply 1994, dan Reply 1988. Sangat jelas di ketiga drama bagaimana nilai-nilai dalam masyarakat analog itu diperlihatkan di dalam dinamika kehidupan yang lebih pelan, lebih manusiawi. Saat para tokoh di ketiga drama sudah dewasa, kehidupan analog di masa remaja mereka menjadi suatu hal yang dirindukan, dimana poin ini adalah daya tarik drama yang membuat penonton merasa menjadi bagian dari mereka. Popularitas Reply Series menunjukkan hasrat penggemarnya untuk menemukan kembali nilai-nilai yang tanpa disadari tersingkir dari kehidupan mereka yang sibuk dan berjalan terlalu cepat.

Sebagian dari kita barangkali merasa terhubung dengan Seo Dalmi dan Nam Dosan yang memperjuangkan impian-impian mereka dengan penuh gairah. Sebagian lain bersama Tammy, Scarlet, Ga Gyeong, dan tokoh-tokoh lain dalam Search:WWW, kita mempertanyakan esensi dari kerja keras yang kita lakukan. Untuk apa atau siapa mereka memberikan waktu, tenaga, dan pikiran mereka itu? Apa implikasi setiap kerja yang mereka lakukan? Bagaimana akhirnya mereka melihat diri mereka di cermin setiap akan berangkat kerja dan ketika pulang hanya untuk sekedar meluruskan punggung? Pertanyaan-pertanyaan itu, bagaimanapun, belum terjawab dalam drama-drama yang mengusung tema modernitas yang sama.