Mempertanyakan Ruang, Apa Kabar Perpustakaan?

Membayangkan ruang, imajinasi kita terikat pada satuan-satuan fisik. Pada luas, pada keliling, pada jarak, pada volume. Lalu pada isi: apa, siapa, bagaimana. Manusia dalam ruang tiga dimensi bebas maju, mundur, menyamping, naik, turun. Aspek-aspek gerak kita terbatas pada ruang-ruang yang ditentukan panjang, lebar, dan tinggi, tanpa bisa berbuat banyak pada dimensi waktu. Karenanya ketika kita membayangkan ruang, kita bicara tentang kekinian dan kedisinian serta batas-batas yang membedakan satu ruang dengan ruang lainnya.

Pada konteks sosialnya, ruang adalah tempat dimana interaksi-interaksi antarindividu dimungkinkan oleh lingkungan (sphere) yang terbentuk di dalamnya. Lingkungan itu juga yang menciptakan sekat antara yang formal dan informal, meski pada satu titik baik yang formal maupun yang informal bisa melebur menjadi satu identitas bersama yang disebut “publik”. Publik menjadi suatu konsep yang didalamnya mengandung unsur kesetaraan. Keikutsertaan individu-individu di dalam identitas bersama itu terjadi secara emansipatoris dengan anggapan bahwa mereka berusaha atau mencari suatu pemahaman bersama (mutual understanding) melalui banyak ragam interaksi, yang kemudian membentuk apa yang disebut ruang publik.

Partisipasi emansipatoris ini menjadi semangat yang dominan dalam masyarakat demokratis yang mendorong terbukanya ruang-ruang interaksi publik hingga level mikro. Munculnya berbagai komunitas, perkumpulan, organisasi, paguyuban, dan lain sebagainya adalah suatu bentuk akomodasi dari interaksi-interaksi dalam proses pencarian mutual understanding dan kepentingan yang sama. Ruang fisik kemudian dibutuhkan untuk mempertemukan dan memungkinkan interaksi-interaksi itu terjadi. Termasuk ruang-ruang komunitas seperti kedai Buku Jenny (KBJ) di Makassar, yang menjadi studi kasus dalam kelas ini.

KBJ bisa dikatakan sebagai ruang publik yang secara fisik berwujud perpustakaan. Ia mengakomodasi kebutuhan literasi dan membuka diri kepada semua kalangan. KBJ menjadi tempat berinteraksi orang-orang yang menyukai literasi, musik, dan sedikit warna-warni urbannya Makassar. Orang-orang dari berbagai latar belakang bertemu, bertukar informasi, menjalin kontak, dan membentuk jejaring unik dimana KBJ ada sebagai simpulnya. Bersamaan dengan itu juga terjadi produksi pengetahuan yang lalu disirkulasikan di dalam jejaring, membentuk wacana dan menggulirkan pengetahuan-pengetahuan baru lainnya. Ruang fisik, dalam konteks KBJ, menjadi tempat dimana semua itu dimungkinkan, bahkan didorong untuk terbentuk.

Selama mengikuti kelas bersama KBJ dan Gudskul, saya tak henti membayangkan bagaimana ruang fisik yang pasif seperti perpustakaan bisa mengakomodasi kebutuhan publik atas interaksi yang sifatnya mutual dan menghasilkan beragam wacana baru. Citra perpustakaan yang kuat terekam dalam benak saya adalah tempat yang tenang, kaku, bahkan pada satu titik sakral dengan banyak buku-buku penuh ilmu yang siapapun pengunjungnya perlu takzim menjaga suasana dalam diam. Agaknya citra demikian terbentuk selama interaksi saya dengan perpustakaan yang didominasi oleh perpustakaan sekolah dan perpustakaan yang dikelola lembaga formal lainnya. Jika satu kategori ruang yang sama bisa memberikan citra yang demikian berbeda, artinya mungkin ada hal lain yang menentukan. Di sini kita bicara tentang isi.

Penciptaan ruang ini tidak berlangsung singkat seperti menyekat ruang kosong dengan empat dinding lalu mengisinya dengan barang-barang. Proses-proses di dalamnya, yang membuat ruang itu hidup dan akhirnya aktif memproduksi pengetahuan, berlangsung lambat dan organik. Selain karena keterbatasan sumber daya, faktor lain adalah publik yang menghidupkan ruang itu sendiri yang mesti dibentuk. Banyak ruang yang kegiatan di dalamnya hanya berlangsung sesaat atau hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan transaksional dengan peran aktor yang cenderung tetap, misalnya pengelola dan pengunjung, pelayan dan pelanggan, penjual dan pembeli. Padahal untuk menciptakan ekosistem pengetahuan yang baik diperlukan bentuk-bentuk relasi yang lebih egaliter dimana pihak-pihak yang berinteraksi bisa saling bertukar informasi. Di sini, khususnya KBJ, karakter pengelola mewarnai dengan kuat ruang-ruang yang diciptakannya.

Pengelola KBJ yaitu Kak Bob dan Kak Nita – yang saya beruntung bertemu keduanya – bercerita bagaimana mereka mengidentifikasi KBJ sebagai space of hope. Terinspirasi dari David Harvey, ruang komunitas yang mereka ciptakan juga berusaha menampik wacana there’s no alternative yang berkembang di tengah pusaran arus urbanisasi dan kapitalisme. Mereka meletakkan berbagai harapan tentang anak-anak di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka, tentang komunitas seperti apa yang ingin mereka bangun di dalam ruang kecil yang semula teras dan ruang tamu. Lebih dari sekedar ruang tamu, KBJ menjadi ruang temu bagi publik yang merasa beresonansi dengan program-program yang terlahir dari harapan yang mereka tanamkan pada ruang fisik itu.

Proses-proses yang sama juga sebenarnya terjadi pada coffee shop, café, dan ruang-ruang lainnya yang berusaha mengakomodasi kebutuhan publik dalam berbagai bentuk. Isi dari ruang menarik publik tertentu yang merasa kebutuhannya terpenuhi, membentuk ekosistem sendiri yang membedakan satu ruang dengan ruang lainnya. Perbedaan KBJ dengan ruang lain terletak pada salah satu bentuk harapan pengelolanya, yaitu sebagai ruang produksi pengetahuan.

Pertumbuhan kelas menengah diantaranya menjadi pendorong terciptanya kebutuhan yang lebih dari sekadar bertahan hidup, tapi juga kebutuhan untuk menjadi bagian dari sesuatu (sense of belonging) sehingga banyak orang bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan kecil atau komunitas yang sesuai dengan kesukaan dan kebutuhan mereka. KBJ menjadi contoh yang mewakili kekuatan ruang-ruang komunitas di Indonesia. Program-program kolaboratif dalam hal musik dan literasi dikembangkan ke berbagai bentuk kegiatan diskusi, cipta puisi, mendongeng, belajar teater, dan sebagainya. KBJ sebagai perpustakaan akhirnya tidak hanya menjadi tempat dimana pengetahuan didapatkan secara pasif melalui membaca buku, tapi juga secara aktif diproduksi. KBJ mengembalikan pengetahuan yang tercipta dalam interaksi publik yang datang ke dalam beragam bentuk dan mengembalikannya ke publik itu sendiri sehingga terbentuk sirkulasi yang berkelanjutan.

Sekarang keberlanjutan itu ditantang oleh situasi pandemi. Tidak hanya KBJ saja, namun semua ruang yang kehidupan di dalamnya melekatkan diri pada keberadaan fisik merasakan tantangan yang sama ketika ruang fisik itu justru dihindari. Ruang seketika berpindah ke dunia virtual yang mendadak bisa menjangkau siapa saja dan darimana saja, namun di saat yang sama tidak bisa menjamin kedalaman relasi antar individu di dalamnya, yang sebelumnya hal ini menjadi kekuatan utama dari hidupnya sebuah ruang.

Pertanyaan tentang keberlanjutan ruang komunitas, ruang kreatif, atau ruang publik ini menjadi topik yang kami diskusikan di kelas secara cukup intens. Tak hanya KBJ. Ruang Belajar Alex Tilaar (RBAT) yang tengah saya bantu kelola pun tidak lepas dari jeratan pertanyaan ini. Bahkan isunya bukan tentang keberlanjutan, tapi bagaimana memulai sebuah ruang yang keberadaannya terikat pada wujud fisik ruang perpustakaan dan ruang temu di tengah situasi yang bahkan melarang orang-orang untuk bertamu. Pembicaraan justru jadi semakin menarik ketika kami tidak menemukan jalan keluar atau jawaban dari pertanyaan itu, selain mau tidak mau kita harus bisa beradaptasi dengan beralih ke ruang-ruang virtual yang tersedia. Lalu, ketika kita sudah beradaptasi dengan ruang virtual, sejauh mana ruang fisik yang kita kelola akan tetap relevan menjawab kebutuhan publik yang kita inginkan?

Kami jadi bertanya-tanya tentang bagaimana ruang-ruang lain beradaptasi dengan situasi. “Apa kabar perpustakaan?” menjadi simpulan kelas sekaligus pertanyaan yang ingin kami lempar kepada rekan-rekan pegiat ruang komunitas, khususnya yang mengambil bentuk perpustakaan. Pertanyaan itu menjadi topik yang perlu didiskusikan lebih lanjut sebagai bagian dari upaya menjawab pertanyaan itu untuk diri kami sendiri. Bertanya tentang kabar bisa jadi memang klise, namun sebagaimana setiap hal yang berhadapan dengan perubahan, hanya pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan yang akan tetap relevan.

(Artikel ini disusun penulis dalam rangka pemenuhan proyek akhir kelas virtual “Mengelola Ruang Kreatif” yang diselenggarakan oleh Gudskul pada Juli – Agustus 2021)