Perfect Blue / 1997

Oh dear, a line marching out from the calendar. My hallucinations aren’t at all original.” – Satoshi Kon (Sayonara, 2010)

Satoshi Kon terlalu cepat pergi. Dia masih berusia 46 tahun saat kanker pankreas merenggut nyawanya di bulan Agustus 2010. Selain meninggalkan surat terakhirnya yang menyentuh dengan judul Sayonara dia juga meninggalkan warisan 4 film panjang dan beberapa episode dalam serial televisi. Selain itu Kon juga kabarnya terlibat dalam pembuatan film penting dalam sejarah anime modern Akira. Penanda dari karya-karya Kon adalah obsesinya pada dualitas dan kaburnya batasan antara diri yang riil dan imaji yang dibayangkan, kenyataan dan mimpi, realitas dan ilusi. Metode itu digunakan oleh Kon setidaknya dalam 3 film panjangnya, menyisakan hanya Tokyo Godfather, dimana eksplorasi tema yang diangkatnya demikian realis. 

Film panjang pertama Satoshi Kon-yang akan kita bahas-yang dirilis tahun 1997, Perfect Blue masuk dalam beberapa daftar sebagai salah satu anime terbaik. Perfect Blue diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama, Perfect Blue: Complete Metamorphosis karangan Yoshikazu Takeuchi. Meskipun begitu dalam sebuah wawancaranya (http://www.midnighteye.com/interviews/satoshi-kon/), Satoshi Kon mengungkapkan bahwa film Perfect Blue berbeda dengan cerita orisinal yang ada di novel terutama pada bagian pembuatan film di dalam film, leburnya antara realitas dan dunia ilusi yang dialami Mima, dan juga soal internet. Maka kita sebenarnya melihat dua hal yang secara fundamental berbeda antara Perfect Blue sebagai film dan sebagai novel.

Dengan mengangkat genre horor psychological thriller, Perfect Blue adalah anime yang sangat mengganggu batin kita, serta menjadi penegasan bahwa anime tidak hanya diperuntukan bagi penonton anak-anak. Temanya mengangkat seputar kehidupan seorang idol dan hubungan dengan para penggemarnya. Plot cerita Perfect Blue sesungguhnya sangat sederhana, yaitu mengisahkan Mima Kirigoe (tokoh utama protagonis) dalam peralihan karirnya dari seorang anggota grup pop idol bernama CHAM! menjadi seorang aktris. Mima Kirigoe sebenarnya berada pada kondisi limbung dalam peralihan karirnya dan sering larut dalam lamunan dimana dia berinteraksi dengan ilusi dirinya. Sebuah gejala schizophrenia akut. Meskipun di belakang kita melihat bahwa gejala psikologis Mima berkait erat dengan dua penggemar beratnya yang sama delusionalnya dan menemukan medium kegilaannya melalui persentuhan dengan internet, mereka menjadi penguntit dari seluruh gerak gerik kehidupan Mima. Konflik yang terbangun ditambah dengan pendekatan sinematik Kon membuat film ini menjadi luar biasa.

Meskipun biru adalah bagian dari judul filmnya namun Kon memilih pewarnaan merah yang seringkali dominan. Warna merah terutama muncul pada adegan-adegan dimana Mima sedang berhadapan dengan delusinya. Pewarnaan ini juga sebenarnya dapat dimaknai sebagai suatu pengantar pada adegan pembunuhan berdarah-darah yang terjadi di sepanjang film. Dan merah menjadi warna yang sempurna dalam membangun ketegangan dan kegilaan. 

Tatapan Lelaki

Dalam banyak filmnya Satoshi Kon memang selalu mengangkat tokoh utama perempuan yang ikonik. Konon ini berawal dari kesulitan Kon untuk menciptakan tokoh lelaki sebagai protagonis, karena dia selalu bisa menemukan celah keburukan dari gambaran lelaki yang meskipun sudah dipoles sempurna untuk terlihat baik. Selain bahwa dalam kasus Perfect Blue yang bercerita seputar kehidupan seorang idol, sehingga tokoh utama protagonis sudah pasti adalah perempuan. Meskipun bukan dimaksudkan sebagai sebuah karya kritik terhadap industri idol, di awal film kita dapat melihat bahwa citra publik gemerlap Mima yang dihasilkan oleh produk kultural media massa begitu berbeda dengan kehidupan kesehariannya. Mima masih menggunakan moda transportasi publik, membeli kebutuhan sehari-harinya sendiri di supermarket bahkan tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Pada tahap tertentu ini menggambarkan perihal pekerja yang sebenarnya terasing dari kerja-kerjanya.

Selain itu yang juga menarik perhatian pada awal film adalah bagaimana kita diperlihatkan pada cuplikan obrolan rumor dan desas desus, berpindah-pindah dari satu kelompok lelaki ke kelompok lelaki lainnya, tentang Mima yang kemungkinan akan mundur dari grup idol CHAM! yang membesarkan namanya. Pada sepanjang film kita dapat menyaksikan bahwa Mima merupakan objek utama dari tatapan mata lelaki. Kita bisa soroti pada beberapa bagian, misalnya pada saat dia beraksi di atas panggung bersama CHAM!, pada saat pengambilan gambar film yang dibintanginya yang berjudul Double Bind dengan mengambil bentuk ekstrem ketika dia menjalani adegan pemerkosaan, juga saat sesi foto erotis untuk sebuah majalah. Citra publik dan sensualitas Mima tersebut merupakan hasil produksi kultural yang dihasilkan oleh imajinasi lelaki. Produser dan penulis skrip film, fotografer, maupun manager agensi yang menentukan jalur karirnya adalah posisi-posisi yang ditempati oleh lelaki. Tak heran jika pada terminal akhirnya citra itu juga merupakan konsumsi utama dari hasrat para lelaki. Perempuan seperti Mima berada pada posisi subordinat dalam industri yang phallocentric.

Menurut Freud, hasrat seksual atau libido tidak memiliki tujuan atau objek yang sudah tetap dan ada sebelumnya. Namun, dibangun melalui fantasi, segala objek, termasuk seseorang atau organ-organ tubuh, bisa saja menjadi sasaran hasrat. Freud juga mengatakan bahwa anatomi adalah takdir. Dengan kata takdir bukan dimaksudkan sebagai determinasi genetis melainkan karena perbedaan badaniah merupakan penanda bagi diferensiasi seksual dan sosial. Anatomi perempuan adalah takdir karena sulit untuk lari dari aturan regulatif yang mengitari perbedaan ragawi dan mensubordinasi perempuan di bawah kekuasaan ekonomi dan seksual lelaki. Dalam tulisan feminisme selama bertahun-tahun tubuh memang selalu menjadi persoalan.

Mode tatapan yang sama juga dilakukan oleh penggemar beratnya yang disebut dengan nama alias Me-Mania. Me-Mania ini bertindak lebih jauh dengan menciptakan sebuah laman internet bernama Mima’s Room yang menyerupai laporan hasil dari menguntit Mima. Me-mania adalah salah seorang penggemar berat Mima yang kecewa dengan keputusan Mima untuk beralih menjadi seorang aktris. Mima’s Room menjadi sebuah identitas avatar bagi Mima di dunia internet sekaligus juga menjadi bentuk serangan terhadap identitas Mima di kehidupan nyata. Pada puncaknya Me-Mania berusaha membunuh Mima setelah berkorespondensi dengan seseorang yang mengaku sebagai Mima yang ‘asli’ dan memintanya untuk menyingkirkan Mima sang aktris yang ‘palsu’, yang ternyata adalah Rumi (perempuan yang bekerja di kantor agensi Mima) yang mengalami penyakit gangguan identitas dan beresonansi dengan kekecawaan Me-Mania terhadap pilihan karir Mima.

Internet dan Avatar

Salah satu subjek yang membuat Perfect Blue menjadi tetap relevan hari ini adalah penggambaran tentang sebuah masyarakat pada awal persinggungannya dengan internet. Kehadiran internet tentu banyak mengakibatkan aliran deras arus informasi yang langsung terhubung dalam ruang-ruang paling personal. Pada masa peralihan antara budaya tulisan menuju rezim komunikasi elektronik, jagat transmisi selalu berada dalam percepatan yang konstan, sedangkan jagat penerima berusaha dengan keras untuk mengikuti ritme percepatan tersebut. Meskipun sistem otak manusia plastis namun pikiran manusia berevolusi dengan ritme yang jauh berbeda dengan evolusi mesin. Itulah mengapa ekspansi pada ruang dan waktu siber memliki efek patologis pada manusia yang memiliki keterbatasan fisik dan emosional. Pada beberapa penelitian medis menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan perangkat elektronik juga dapat menyebabkan serangan panik, over-excitement, hyperactivity, ADD, dyslexia, dan depresi. 

Dalam kasus Jepang, kemajuan teknologi dan ekonomi dialami akibat konversi kepada nilai-nilai barat sejak kekalahan Perang Dunia II. Momen itu juga menandai perubahan dari agresi militer kepada produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Tidak dapat disangkal bahwa masyarakat Jepang menampilkan efektifitas tinggi pada masa setelah perang. Meskipun akar dari pemakasaan modernitas sudah dimulai sejak permulaan abad 19 pada era Restorasi Meiji. Modernitas yang dibawa dari luar menusuk tajam pada kehidupan tradisional Jepang. Dalam proses adaptasi dari hal-hal tersebut membuat masyarakat Jepang secara kolektif harus menulis ulang seluruh sejarah masa lalunya dan melakukan pembatalan sistematis atas memorinya. Jepang, sangat tepat untuk dijadikan sebagai sebuah contoh laboratorium dari sebuah masyarakat yang mengalami patologi yang berkaitan erat dengan mutasi konektif teknologi dan perilaku sosial. Beberapa gejala yang dapat kita lihat adalah misalnya arus bunuh diri pada dekade 1970an, dan hikikomori (tindak mengasingkan diri dari yang sosial).

Dengan latar yang telah dibahas diatas kita dapat melihat bahwa gejala delusi yang dialami Mima bukan hanya terkait dengan performativitas tetapi juga oleh persinggungannya pada konektivitas yang diperantarai teknologi. Internet memungkinkan semua orang untuk menciptakan sebuah avatar bagi dirinya, atau sebuah representasi diri yang ingin dihadirkan dalam  ranah publik. Maka pada perkenalan awalnya dengan internet, Mima mengalami kegalauan identitas dan kesulitan mencerna informasi yang didapatnya dari domain bernama Mima’s Room. Kehidupan riilnya mulai diintervensi dengan simulasi yang berjalan di internet. Apalagi identitas avatar Mima di internet dikonstruksi oleh penggemarnya yang menjadi penguntit dan memproyeksikan versi Mima yang lain. Hubungan gelap antara idol dan penggemarnya yang terjadi melalui mode tatapan dan mutasi teknologi ini mungkin yang akan membuat karya debut dari Satoshi Kon abadi. Tak heran jika lantas seorang seperti Darren Aronofsky juga tergila-gila dengan Perfect Blue dan banyak menyalin bentuk pengadeganan dan fragmen ceritanya ke dalam dua filmnya Requiem for a Dream dan Black Swan.