Raya and the Last Dragon, Terima Kasih Telah Mengingatkan Kami

Akhirnya apa yang masyarakat Asia Tenggara inginkan tercapai, yaitu hadirnya princess fiksional Disney yang merepresentasikan mereka. Selama ini yang selalu menghiasi princess tidak pernah ada yang dekat dengan kebudayaan kita sebagai masyarakat Asia Tenggara. Hadirnya Raya and The Last Dragon yang dirilis tanggal 5 Maret 2021 ini menjadi hiburan tersendiri di era pandemi ini.

Penggambaran kehidupan ala kebanyakan tuan putri pendahulu Raya (Kelly Marie Tran) didominasi dengan cerita-cerita yang begitu indah. Setelah mengalami satu-dua kemalangan hidup, seorang pangeran akan menyelamatkan sang putri dan keduanya lalu hidup bahagia. Sepertinya hal itu sudah tidak terjadi pada princess-princess terbaru Disney. Mungkin Disney sadar bahwa kehidupan utopis ala tuan putri dengan mahkota di kepala dan kisah-kisah indahnya sudah tidak populer dan relevan. Lihat saja Prince Harry bersama pasangannya Princess Meghan.

Perjuangan para princess di Disney yang lahir pada era ini, seperti Mulan dan Raya, tidak hanya tentang percintaan saja dan tidak lagi menyelamatkan individu tertentu. Kini kisahnya lebih pelik, bersinggungan langsung dengan tema-tema politik dan permasalahan sosial. Seperti mewakili keresahan zaman.

Asia Tenggara Terwakilkan, Beserta Isunya

Hadirnya film Raya and the Last Dragon tidak bisa menghindar dari ekspresi setuju dan tidak setuju penontonnya atas penggambaran Asia Tenggara. Sebagian beranggapan bahwa film ini tidak mewakili secara keseluruhan. Tapi di lain sisi untuk menggambarkan Asia Tenggara secara keseluruhan dalam dua jam itu takkan pernah cukup, bahkan sekalipun Raya and the Last Dragon memiliki durasi seperti Zack Snyder’s Justice League yang berdurasi empat jam. Dengan ribuan produk budaya dan bahasa di Asia Tenggara, hal ini menjadi tantangan bagi Disney untuk bekerja lebih keras merumuskannya menjadi sesederhana mungkin tanpa kesan memaksakan.

Raya and the Last Dragon karya dua sutradara Carlos López Estrada dan Don Hall ini berhasil meramu dengan pas. Penilaian penonton cukup tinggi, yaitu 7.5 di IMDb; 75% Metacritic; dan 94% Rotten Tomatoes. Keberhasilan ini juga tidak luput dari penulis cerita itu sendiri, Qui Nguyen and Adele Lim, sebagai keturunan Asia Tenggara yang menetap di Amerika Serikat. Selain itu Raya and The Last Dragon membuat divisi khusus untuk bisa meramu hal pelik yang ada di Asia Tenggara dalam waktu yang singkat, yaitu divisi Southeast Asia Story Trust. Divisi ini didominasi oleh orang-orang Asia Tenggara atau keturunannya yang tidak asing bagi pengamat sinema untuk mendengarkan nama-nama mereka.

Hasil yang didapat cukup memuaskan bagi penggemar film animasi terlepas dari ketidakpuasan sebagian pihak. Saat menonton filmnya, kita akan merasa familiar. Di antara sebabnya adalah pakaian-pakaian yang dikenakan amatlah dekat dengan budaya tradisional kita. Malaysia? Indonesia? Filipina? Myanmar? Vietnam? (you name it). Penyatuan dari beberapa budaya di setiap negara Asia Tenggara ini cukup terkesan cantik dan tidak terlihat memaksa.

 

Raya and the Last Dragon, dari semua hasil penggabungan yang terdapat pada cerita, akhirnya ditemukan satu konflik yang sangat dekat dengan peradaban hari ini, khususnya di Asia Tenggara. Yaitu, krisis kepercayaan. Diawali dengan Raya kecil yang menunjukkan letak The Orb berada kepada teman barunya Namaari (Gemma Chan) yang berasal dari Fang Tribe, salah satu bagian dari dunia fiksi bernama Kumandra. Tanpa disadari, Namaari yang dipercayainya malah memberi tahu dimana The Orb itu berada dan dalam sekejap semua orang mengetahui dan mulai memperebutkannya. The Orb terjatuh, menjadi kepingan yang diperebutkan oleh lima suku (Fang, Heart, Spine, Talon, dan Tail). Permasalahan dari masa lampau muncul dan The Spirit of Druun kembali hidup dan mengubah semua yang dilahapnya menjadi batu.

Sesuai dari judul film ini, bahwa yang dapat menghentikannya adalah Sisu (Awkwafina) Sang Naga Terakhir. Diceritakan bahwa Sisu tinggal di ujung dari aliran sungai yang entah di sisi mana keberadaannya. Raya yang tadinya hanya percaya bahwa Sisu hanyalah sebuah dongeng tidur, akhirnya ia berusaha percaya karena tidak ada jalan lain selain mempercayai dongeng tersebut untuk menyelamatkan Kumandra. Di lain sisi, keempat suku selain Heart percaya bahwa The Orb bisa memberikan kekayaan bagi tanahnya. Padahal tidak. Kehebatan suku Heart sebagai penjaga The Orb berasal dari keteguhan rasa percaya terhadap sesama dan itulah yang membuat mereka makmur. Setelah serangan dari The Druun, Kumandra hancur dan nyaris semua rakyatnya menjadi batu. Raya termasuk dari sedikit yang selamat. Dari sini muncul sentimen dan isu sosial politik yang cukup pelik dengan penggambaran sederhana ala Disney, agar isu itu tetap asik ditonton oleh adik-adik kita.

Kumandra menggambarkan Asia Tenggara dan krisis kepercayaan juga menjadi masalah kita sebagai orang Asia Tenggara. Kita bisa lihat tentang krisis kepercayaan yang terjadi di beberapa negara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Kamboja, Filipina pada hari ini. Lalu sebenarnya apa yang dicari dari setiap negara di Asia Tenggara? Kepercayaannya terhadap dongeng Sisu si naga terakhir akhirnya membuahkan hasil dan mereka bertemu. Dalam pertemuannya dengan Raya, Sisu bercerita bahwa inti kekuatan dari The Orb itu adalah ‘kepercayaan’. Nah, The Orb macam apa yang hancur sehingga The Druun versi dunia nyata ini terus menghantam rasa kepercayaan kita sebagai masyarakat Asia Tenggara? Perlahan The Druun versi “kita” menjadi ancaman yang tidak ada habisnya dan mengancam persatuan kita sebagai masyarakat Asia Tenggara yang majemuk.

Mereka yang Kehilangan

The Druun, kekuatan jahat yang mengancam penduduk Kumandra, hidup lagi setelah sekian ratus tahun terkubur dalam belenggu The Orb. Setelah The Orb terpecah belah, The Druun melahap manusia melalui energi jahatnya dan mengubah mereka menjadi batu. Untuk menyelamatkan penduduk Kumandra yang menjadi batu, Raya harus bisa menemukan Sisu. Dikisahkan sosok Sisu sebenarnya hanyalah naga yang paling tidak memiliki kemampuan spesial. Ia menjadi naga terakhir yang masih hidup karena para naga pendahulunya percaya bahwa Sisu-lah yang mampu menyelamatkan peradaban nantinya.

 Dalam petualangannya setelah Raya menemukan Sisu, akhirnya bertemu dengan Boun (Izaac Wang) di wilayah suku Tile. Boun adalah bocah yang serba bisa dan pemilik dari sebuah kapal. Tokoh Boun diceritakan sebagai seorang remaja yang serba bisa. Awal pertemuan dengan Raya, Boun menawarkan makanan dengan paksa kepada Raya dan Sisu, tentu dengan harga. Karena Raya yang sedang diburu-buru oleh waktu, Raya meminta Boun untuk kapalnya segera berlayar dan memberi kesempatan Boun untuk menaikkan tarif. Bukan Disney bila tidak memasukan hal-hal detail, termasuk penggambaran orang Asia Tenggara yang senang memberikan biaya tambahan di setiap kesempatan seiring pertambahan permintaan. Detail seperti ini sungguh dekat dengan wisatawan asing bila berkunjung ke negara-negara yang berada di Asia Tenggara dimana biaya tambahan selalu menyertainya.

Bagi Boun remaja, hal itu caranya untuk bertahan hidup sebatang kara sejak ayah dan ibunya membatu dikarenakan ulah The Druun.

Sesampainya ia di daerah suku Talon yang penuh dengan penipu, Raya lebih waspada. Bahkan kepada anak kecil sekalipun, karena bisa saja anak kecil itu bagian dari penipu. Benar saja pertemuannya dengan baby Noi (Thalian Tran) cukup merepotkan. Baby Noi bekerjasama dengan para monyetnya mengambil tas Raya yang berisi The Orb yang dibawanya. Deja vu? Ya, isu-isu eksploitasi manusia di bawah umur yang terjadi di daerah Asia Tenggara adalah rahasia umum. Lihat yang terjadi pada baby Noi. Balita ini seperti sudah dilatih untuk menipu. Monyet-monyet pencuri juga sudah tidak asing di setiap tempat wisata yang ada di daerah Asia Tenggara. Mereka amat cekatan dalam mengambil barang-barang turis, bahkan konspirasi antara monyet dengan penjaga tempat wisata juga ditunjukkan dengan detail dalam film ini (you did a great job, Disney!).

Sama seperti Boun, baby Noi kehilangan orang tuanya dikarenakan The Druun merenggut nyawanya.

Raya bersama Sisu, Boun, dan Baby Noi kemudian menuju Spine. Boun dan Baby Noi ikut karena ia memiliki visi yang sama, yaitu menginginkan semua kembali seperti semula dengan bantuan bersatunya pecahan The Orb. Ketika tiba di Spine, kesan takut ketika mereka sampai dialami oleh Raya karena reputasi suku Spine sebagai suku terkuat di Kamandra. Lalu benar saja, mereka terkena perangkap dari suku Spine, dibawa ke dalam kabin. Di sana mereka diinterogasi dengan keadaan terikat oleh ketua suku Spine, yaitu Tong (Benedict Wang). Ketika Tong mengikat Raya dan rombongannya, sebenarnya Tong bingung harus diapakan mereka semua. Ternyata Tong hanya kesepian karena sebenarnya dia menjadi orang terakhir yang melindungi tanah kelahirannya dari ancaman The Druun. Semua teman, keluarga, dan anaknya menjadi batu akibat The Druun. Akhirnya Tong setuju untuk memberikan potongan The Orb ke Raya dan memutuskan untuk ikut dalam petualangan Raya menuju Fang. Fang adalah daerah asal Namaari, seseorang yang sempat mengingkari kepercayaannya saat Raya remaja.

Akhir Dari Kumandra Sesungguhnya

Membatu adalah analogi yang digunakan sebagai kematian. Mereka yang selamat merasa sepi dalam kehilangan, berjuang dalam sepi demi menemukan kemerdekaan sekali lagi. Bila membatu adalah kematian, The Druun adalah kehancuran yang memakan korban, sedangkan The Orb adalah kekuatan rasa percaya antar sesama. Lalu dimana ujung aliran sungai itu untuk kita bisa temukan “Sisu” di versi Kumandra sesungguhnya saat ini (Asia Tenggara)? Atau sebenarnya, “Sisu” pada kehidupan nyata ini hanyalah dongeng?

 Merenggut semua rasa percaya terhadap sesama, terima kasih Raya The Last Dragon telah memberikan analogi yang tepat. Menjadi The Orb, sebuah batu yang penuh dengan rasa percaya di era krisis kepercayaan hari ini adalah hal yang sulit, kita terlalu sentimen—kita terlahir di zaman dimana “jangan ngomong sama orang ngga dikenal, nanti diculik”.

Atau ada yang ingin sukarela menjadi Raya?