Utopia Bersama AlphaGo

“Dalam permainan catur, kita dapat memiliki kesempatan berjalan sebanyak 20. Sedangkan dalam permainan Go adalah 200 dan memiliki jumlah kemungkinan konfigurasi papan lebih dari jumlah atom pada semesta.” Dikutip dari sebuah film dokumenter AlphaGo yang dirilis pada 2016 oleh Demis, Co-Founder & CEO Deepmind Google.

Sebuah fakta yang mengejutkan bahwa terdapat sebuah permainan papan yang memiliki kesempatan konfigurasi dalam jumlah yang melebihi jumlah atom. Go adalah sebuah permainan papan yang masih cukup populer hingga hari ini khususnya di Cina, Korea Selatan, dan Jepang. Tidak diketahui secara pasti dari mana permainan ini berasal, tetapi kemungkinan terbesar dimainkan pertama kali di dataran Cina, Jepang, atau Korea.

Go adalah salah satu permainan dengan kompleksitas tertinggi. Ketika bermain Go, para pemainnya seolah menyelam begitu dalam hingga seseorang bisa menemukan dirinya yang lain, lalu keduanya saling berbicara di alam sana. Dalam suatu pengalaman psikedelik seperti itu, suara biji Go yang saling beradu dalam wadah dan suara biji Go yang dihentakkan pada papan menjadi sebuah lagu penghantar untuk menuju alam sana. kemampuan konsentrasi yang tinggi dibutuhkan untuk memainkannya. Ini menjadi salah satu alasan untuk mengenalkan Go kepada anak berusia dini dengan tujuan menjadikannya pondasi dalam berpikir dan membantunya mengenal dirinya sendiri melalui interaksi batin yang dimungkinkan melalui permainan Go.

Setelah ribuan tahun Go telah dimainkan, pada abad ke-21 inilah Go mengalami lintas waktu yang mungkin mengejutkan bagi sejarah peradaban manusia. Deepmind Google, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Artificial Intelligence ingin menciptakan sebuah kecerdasan yang bisa memecahkan masalah dengan kadar kompleksitas yang lebih tinggi melalui permainan papan, Go. Demis, CEO dari Deepmind Google terkesima dengan pola pikir para pemain Go dalam menentukan langkah mereka dimana terdapat ratusan kesempatan dalam strateginya. Demis berharap permainan Go ini akan menjadi pintu untuk menemukan sebuah algoritma yang lebih efektif dan efisien yang bisa membantu umat manusia.

AlphaGo hadir sebagai sebuah aplikasi dari permainan Go yang memiliki cara kerja yang sama dengan aplikasi permainan papan lainnya seperti catur. Terdapat tingkat kesulitan di sana dimulai dari yang amatir hingga profesional berdasarkan dari algoritma yang tersimpan di memori aplikasi.

“Go bila dilihat dari permukaan seperti permainan papan pada biasanya, tetapi bila dilihat lebih dalam, sebenarnya ini adalah permainan filsafat,” sebut Yuan Zhou, pemain Go profesional peringkat ke-7 dunia. Ia melanjutkan, “Bila dilihat lebih dalam dan ke dalam lagi, permainan ini berusaha mengerti apa itu mengerti.”

AlphaGo sebagai platform digital produk peradaban abad ke-21 ini akan menantang pemikiran manusia dan menciptakan sejarah. Ini akan menjadi awal mula dari sebuah utopia yang menakjubkan, yaitu manusia melawan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Proyek pertama AlphaGo yang dipimpin oleh kepala peneliti dari Deepmind Google, David Silver adalah melawan Fan Hui juara Go Eropa 2013-2015. Fan Hui adalah seorang pemain Go profesional yang sudah menekuni permainan ini sejak dini. Dalam kesempatannya untuk menjadi pelaku sejarah dunia untuk melawan kecerdasan buatan, ia merasa sangat terhormat bahkan sampai tidak percaya ketika pertama kali menerima sebuah surel dari petinggi Deepmind Google. Fan Hui sendiri menjadi juara Eropa setelah dirinya sempat bersumpah untuk melupakan Go, namun tidak berhasil. Ketika ia mengelola sebuah kafe, kemampuannya justru meningkat dengan melawan 4 orang pelanggan cafe-nya sekaligus di 4 papan berbeda. Dengan hidupnya yang sudah didedikasikan untuk Go, menurutnya, pada hari ketika ia melawan Kecerdasan Buatan, dia akan mengalahkannya langsung.

Hari pertandingan tiba. Tidak seperti yang dibayangkan oleh Fan Hui sebelumnya yang ia pikir akan berada di ruangan putih dengan sensor-sensor tertempel di tubuhnya, ternyata dia hanya bermain di suatu ruangan yang diubah menjadi studio. Tidak ada pernak-pernik teknologi canggih yang menempel pada tubuh atau kedua sisi dahinya. Ini, seperti pada bermain Go normal dimana dia melawan manusia lain. Hanya saja manusia di depannya kali ini hanya menggerakan instruksi dari sebuah program untuk meletakkan biji Go pada papan.

Permainan dimulai, ketegangan belum terasa pada langkah-langkah yang terjadi di awal. Hingga pada masuk bagian pertengahan, Fan Hui terkejut dengan langkah yang dilakukan program AlphaGo. Langkah yang tidak diduga itu mengacaukan konsentrasinya, membuat mimik muka Fan Hui terlihat sedang dalam posisi yang tidak nyaman. Bahkan hal ini membuatnya berpikir bahwa dia tidak lagi percaya pada dirinya sendiri. Tidak percaya atas apa yang terjadi dalam permainan babak pertamanya ini, permainan Fan Hui dan AlphaGo masih menyisakan empat pertandingan lagi. Dengan masih menampakkan wajah yang tidak nyaman itu, dia izin untuk keluar mencari udara segar sendirian. Ketika seseorang menghampirinya untuk menemaninya berbicara, Fan Hui menolak dengan berkata bahwa ia hanya ingin sendiri. Beberapa lama kemudian ia kembali ke studio untuk melanjutkan pertandingan, meski dengan raut kekecewaan yang cukup membuat tim Google Deepmind khawatir.

Sama sekali tak diduga, Fan Hui dikalahkan program dengan skor telak: lima berbanding kosong. Bisa dibayangkan kekecewaan yang hadir. Satu – kosong saja berakhir sangat kecewa, apalagi lima – kosong?

“Memang saya kalah dalam pertandingan ini, sangat memalukan bukan? Terlebih saya sesumbar,” kata Fan Hui sambil tertawa tanpa mendramatisasi kekalahannya. “Tetapi yang bisa dilihat dari hal ini, saya bangga, karena saya menjadi dari salah satu dari sejarah peradaban manusia. Terima kasih Deepmind Google, telah memberikan kesempatan kepada saya.”

Pertanyaan terbesar kini muncul: Bagaimana bisa kecerdasan buatan mengalahkan manusia? Benarkah keberlangsungan peradaban manusia hanya menjadi Utopia di pinggir jurang? 

Deepmind Google membuat percobaan lainnya. Masih dengan level yang sama ketika mengalahkan Fan Hui, kini AlphaGo menantang peringkat pertama pemain Go legendaris dunia, Lee Sedol dari Korea Selatan. Peringkat pertamanya sulit digusur dengan pemain Go lainnya sampai ia dianggap sebagai pemain Go terhebat yang pernah ada.

Berkat media, kabar proyek ini menyeruak ke permukaan. Sebenarnya kegemparan ini sudah dimulai dari pertandingan AlphaGo melawan Fan Hui, tapi kali ini lebih gila karena sudah tentu ini akan menjadi suatu tonggak sejarah dalam peradaban manusia di kancah teknologi. Lee Sedol, juara yang tidak pernah terkalahkan dan memiliki kepintaran dan kecerdasan manusia yang luar biasa, akan segera melawan sebuah program kecerdasan buatan. Sejauh mana hasil dari penelitian ini akan mengubah kehidupan manusia kedepan nanti melalui pertandingan Go, layak dinanti dan ditunggu bagi siapapun.

“Saya tidak berusaha jumawa, hanya saja saya percaya akan mengalahkan AlphaGo dengan skor telak lima berbanding kosong tanpa kewalahan,” ucap Lee Sedol. Kata-kata yang tak asing sejak dinyatakan oleh Fan Hui. Akankah hasilnya berbeda?

Masyarakat percaya bahwa Lee Sedol akan mengalahkan AlphaGo. Pertandingan ini seperti menjadi harapan dan tumpuan besar dimana semua orang seperti berambisi membuktikan bahwa manusia takkan terkalahkan bahkan dengan kecerdasan buatan atau robot-robot nantinya di masa mendatang. Mampukah Lee Sedol mengalahkan kecerdasan buatan dan membayar ekspektasi seluruh umat manusia padanya? Atau jangan-jangan ia akan bernasib sama dengan Fan Hui?

Lee Sedol besar di negara Korea Selatan dimana Go sangat populer. Go banyak dianalogikan seperti lukisan, puisi, dan musik. Menurut orang-orang di Cina, Jepang, dan tentunya Korea Selatan, Go adalah refleksi dari pemainnya sendiri. Ini adalah nilai fundamental hidup yang bahkan menghasilkan beberapa teori filsafat di dalamnya. Bisa dibayangkan, rasanya akan mudah bagi Lee Sedol mengalahkan sebuah program yang tidak memiliki budaya Go dan hanya “buatan”.

Hari pertandingan tiba. Langkah pertama berjalan. Ketegangan bertambah. Entah kenapa AlphaGo seperti menyiasati atau bahkan mendramatisasi permainan kali ini. Tidak biasanya AlphaGo melakukan langkah awalnya begitu lama hingga memakan waktu tiga menit. Apa sebenarnya AlphaGo memiliki pola pikir atau kesadaran seperti manusia, hingga mampu mengecoh lawannya dengan menunda langkah awal, merusak konsentrasi lawan? Namun AlphaGo hanyalah program yang berpikir atas dasar algoritma yang ia terima.

Pada akhirnya, langkah pertama ditunjukkan oleh tim AlphaGo yang duduk di depan Lee Sedol dengan menaruh biji sesuai dari instruksi program yang tertera di layar. Pertandingan berjalan begitu menegangkan. Dari langkah yang dilakukan Lee Sedol dan AlphaGo, para komentator mengatakan bahwa ada sesuatu strategi yang cemerlang yang akan dilancarkan oleh AlphaGo.

Wajah santai Lee Sedol kini berubah menjadi serius, bahkan terlihat sedikit risau. Kerisauan itu semakin terlihat dari Lee Sedol yang menggaruk-garuk rambutnya, beberapa kali membenarkan posisi duduknya. Dia berusaha membuat kontak mata dengan lawannya, tapi di lain sisi ia sadar bahwa lawannya bukanlah manusia di depannya, melainkan sebuah program. Hal ini biasanya dilakukan oleh Lee Sedol untuk menjatuhkan mental lawan melalui metode membaca mimik ekspresi dan memperkirakan langkah apa yang selanjutnya akan dilakukan lawannya. Tapi sayang seribu sayang, lawannya kali ini tidak memiliki perasaan. Lawannya hanyalah sebuah besi dingin, raga saja tidak hadir, terlebih jiwa? 

Permainan berjalan, terus dan terus. Melupakan waktu, semua seolah berlangsung singkat dalam ruangan ini. Akhirnya salah satu di antara mereka melakukan langkah menyerah dan langkah menyerah itu berasal dari biji berwarna hitam yang dimainkan Lee Sedol.

Lee Sedol, kalah dalam pertarungan ini, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Di konferensi pers dia hanya berusaha setenang mungkin untuk membicarakan hasil permainan tadi. Dia meminta maaf pada seluruh orang atau lebih tepatnya pada manusia. Pada hari pertama permainan ini berlangsung, anak dari Lee Sedol menyaksikan langsung dan menangis atas hasil yang didapatkan oleh ayahnya.

Hari ke-2 telah tiba, semua orang berharap ada sedikit cahaya pada hari ini dan beberapa orang juga memprediksi bahwa Lee Sedol sudah belajar dari kesalahannya kemarin. Tapi formula apa yang ia akan gunakan ketika musuhnya tidak memiliki banyak riwayat permainan? Musuhnya hanya sebuah algoritma yang terdiri dari 200 lebih langkah konfigurasi papan. Sejauh itulah Lee Sedol berusaha memahami musuhnya, tapi bisakah dia  memikirkan hal sekompleks itu dalam semalam? Jawabannya tidak. Permainan ke-2 berjalan dan kekalahan menyertainya. Demikian juga pada pertandingan ke-3.

Pertandingan hari ke-4 tiba. Semua orang telah sedikit melemaskan otot-ototnya, tidak lagi dalam ketegangan seperti tiga hari kemarin berturut-turut. Hari ini semua orang sudah mengetahui bahwa Lee Sedol sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengejar ketinggalan. Tapi beberapa di antaranya masih ada yang berharap pada dua sisa pertandingan. Apakah akan ada drama berikutnya yang tersaji?

Lee Sedol pada hari ke-4 masih dengan wajah yang kurang percaya diri untuk memulai pertandingan, Namun ia sudah sedikit lebih tenang. Ketenangannya membawa aliran permainan bergaya konvensional. Ini adalah langkah yang tidak pernah dilakukan oleh Lee Sedol sebelumnya tapi para penggemar juga menangkap bahwa sebenarnya walaupun Lee Sedol tidak pernah memainkan gaya seperti ini tetapi penggemar yakin bahwa semakin lama, Lee Sedol meningkat rasa percaya dirinya. Dia menjadi juara bersamaan dengan kembalinya kepercayaan dirinya.

Kepercayaan dirilah yang tampaknya membuat AlphaGo menjadi kewalahan. AlphaGo secara tiba-tiba melakukan gerakan absurd yang sukar dipercaya oleh banyak orang. Di awal pertandingan di hari pertama melawan Lee Sedol, tim Deepmind Google merasakan kerisauan ketika programnya, AlphaGo, tidak memberikan respon selama tiga menit lebih ketika ingin melakukan langkah awal. Tim Deepmind Google risau atas kemungkinan terjadinya error. Namun kerisauan itu tertepis ketika pada pertandingan-pertandingan berikutnya AlphaGo menampakkan gerakan-gerakan yang lebih seperti gurauan. Kerisauan itu juga hilang ketika melihat ekspresi Lee Sedol yang masih terlihat fokus dan serius, hanya ingin pertandingan ini terus berlanjut hingga akhir.

Di konferensi pers setelah Lee Sedol memenangkan pertandingan ke-4, ia tampak tersenyum diiringi suara tepuk tangan riuh menyambut kemenangannya di setiap ruangan yang ia lewati. Segala ucapan selamat dari bahasa Inggris dan Korea bercampur ramai. Para peneliti dari Deepmind Google, pasca pertandingan ke-4 ini langsung mengulas apa yang terjadi sehingga Lee Sedol mampu menemukan kelemahan teknologi secanggih AlphaGo. Semua masih dalam kondisi yang tidak percaya. Mereka menyatakan bahwa kemungkinan itu hanya berjumlah 0,007%, yang artinya amat sangat tipis. Kecerdasan Lee Sedol berhasil mempertahankan posisinya yang seolah di tepi jurang dengan menemukan kemungkinan yang tipis itu.

“Apa yang dilakukan Lee Sedol adalah langkah Tuhan,” celetuk salah seorang tim AlphaGo.

Hanya saja, kemenangan dan perayaan tidak berlangsung lama. Pada hari ke lima ini, di awal pertandingan suasana lebih tenang dan terasa ceria. Ketenangan dan kepercayaan diri Lee Sedol yang berasal dari kemenangan sebelumnya membawanya mendapati kelengahan program AlphaGo. Semua orang seperti menduga hal ini akan berakhir dengan kemenangan lagi bagi Lee Sedol. 

Kesalahan langkah kini malah terjadi sebaliknya. Lee Sedol terpojok kembali oleh AlphaGo. Wajah serius kembali ia tampakkan, tapi sekali lagi, dia kembali terkecoh. Lee Sedol kini kembali melakukan gerakan yang tidak berguna, yaitu melihat mata lawan yang ia tahu tidak sama dengannya. Akhirnya ini bukan tentang mengalahkan lawan di hadapan, tapi tentang bagaimana proses internal di dalam diri kita kala menghadapi tekanan dengan segala kemungkinan. Di pertandingan ke-5 atau terakhir, Lee Sedol kembali dikalahkan.

Meski demikian, perayaan yang terlalu awal ini tidak terhapus begitu saja. Semua partisipan dan para pers bahkan masyarakat masih merayakan kemenangan kemarin walau di pertandingan terakhir Lee Sedol mengalami kekalahan. Bukankah seharusnya ini menjadi hari tersedih seluruh umat manusia karena kepintaran kita dikalahkan oleh sebuah program? Bukankah semangat di awal adalah tentang pembuktian bahwa manusia masih menjadi suatu hal yang cerdas dibandingkan dengan apapun?

“Aku telah lahir untuk mengalami semua ini. Aku akan membuat sesuatu dari ini dengan pembelajaran yang sudah aku pelajari,” ucap Lee Sedol. “Aku berterima kasih dan merasakan anugrah, seperti menemukan apa alasanku bermain Go. Aku sadar ini adalah pilihan yang baik untuk mempelajari bermain Go.”

“Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan,” ujarnya menutup percakapan.