Tahun 1971 di Indonesia, seorang penulis membayangkan bagaimana mesin waktu bekerja. Penulis itu adalah Djokolelono dengan karyanya Terlontar ke Masa Silam (1971). Ia aktif menghasilkan karya pada dekade 1970 – 1980-an di Indonesia. Selain menghasilkan buku cerita untuk anak dan juga dikenal dengan karya-karya fiksi sainsnya seperti seri Penjelajah Antariksa. Karya-karya fiksi sains Djokolelono adalah sedikit dari karya fiksi sains yang bisa mencapai status populer di Indonesia. Sebelum Gramedia akhirnya merilis Seri Klasik Semasa Kecil baru-baru ini, mesin waktu Djokolelono memang sedikit terkubur dalam ingatan sastra Indonesia. Upaya untuk menggali lebih dalam tentang sastra fiksi sains Indonesia memang perlu dilakukan untuk dapat melihat imajinasi, mimpi-mimpi teknologis, dan inspirasi ilmiah kita.
Dalam jagat fiksi sains dunia kita mengenal karya besar dari H.G. Wells yaitu The Time Machine yang terbit pada tahun 1895 yang juga memperkenalkan terminologi mesin waktu pertama kali. Mesin waktu Djokolelono dalam buku Terlontar ke Masa Silam jelas berbeda. Semua bermula ketika tokoh utama cerita, Dwiyana seorang mahasiswa jurusan ilmu purbakala UNBRA mendampingi dosennya Dr. Agustiono Harjomardowo, beserta dua orang tamu dari Universitas Boston, David Blair dan Bruce Hawkins, menggunakan helikopter dan berkeliling di atas selat Madura. Di atas helikopter itu sebuah mesin, yang menurut tuturan Dwiyana berbungkus kotak kayu plywood dan berisi benda seperti helm dan tombol-tombol yang tidak dapat dimengerti, meledak sehingga helikopter itu terjatuh di perairan Selat Madura. Hanya Dwiyana yang selamat dari kecelakaan tersebut namun ia mengalami kontraksi temporal, terlontar ke perairan Selat Madura pada tahun 1292 ketika perairan tersebut banyak dikuasai bajak laut yang bernama Kala Wredati.
Mesin waktu yang diimajinasikan oleh H.G Wells datang dari sebuah percobaan ilmiah di laboratorium yang dilakukan oleh sang petualang waktu, mesin waktu Djokolelono datang dari dua orang asing Amerika. Dwiyana adalah korban dari sebuah teknologi yang ia tak mengerti. Ia diperhadapkan pada sebuah petualangan yang hampir merenggut nyawanya karena sebuah benda malfungsi yang datang dari negara asing. Sehingga mesin waktu Djokolelono tidak hadir dari sebuah keahlian dan kemampuan teknis, namun ia menyingkapkan sebuah ketidakmampuan akan kontrol dan pengetahuan. Sebuah struktur yang sangat khas dalam modernitas kolonial.
Hal lain yang berbeda dari cara kerja mesin waktu Djokolelono adalah jika mesin waktu Wells membawa sang petualang ke masa depan nun jauh yang tidak terbayangkan, Djokolelono membawa Dwiyana ke masa lalu pada tahun 1292. Ini adalah tahun dimana keruntuhan Kerajaan Singasari dan satu tahun sebelum Kerajaan Majapahit berdirinya. Tidak heran pada petualangan Dwiyana di tahun tersebut membawanya berkenalan dengan Raden Wijaya dan secara tidak langsung turut andil membantunya mendirikan Kerajaan Majapahit. Di Indonesia, Majapahit memang selalu digambarkan sebagai salah satu kerajaan yang jaya dalam sejarah Indonesia pra-kolonial. Kita bisa melihat ini sebagai sebuah ekspresi post-kolonial dari Djokolelono. Sebuah rasa rindu akan kebesaran masa lalu pra-kolonial. Teknologi alih-alih membawa imajinasi pada masa depan justru menjadi sebuah alat untuk mencoba merekonstruksi sejarah dan identitas bangsa.
Sedari awal cerita, Dwiyana memang menaruh curiga pada kedua tamu asing yang ia dampingi. Awalnya kecurigaan ini hanya datang dari firasatnya, namun Dwiyana menelaah juga bahwa keduanya tidak terlihat seperti ilmuwan dan memiliki pengetahuan yang minim tentang sejarah meski mereka mengaku sebagai ahli purbakala. Kecurigaan itu juga diperparah dengan tindak tanduk mereka yang selalu membawa kotak kayu plywood kemanapun mereka pergi. Pada satu kesempatan iseng, Dwiyana sempat mengintip ke dalam kotak kayu tersebut yang ternyata berisi dua buah benda semacam helm yang dibuat dari bahan lemas dengan berbagai alat elektronik dan yang paling mencolok adalah beberapa tombol. Secara bawah sadar ini mungkin juga adalah sebuah kecurigaan akan agenda tersembunyi dari orang asing yang datang dari trauma kolektif masyarakat akan sejarah penjajahan yang merupakan sejarah pengkhianatan, perampasan dan kekerasan yang dilakukan oleh orang asing. Jadi dapat dikatakan bahwa cerita yang dibangun Djokolelono adalah sebuah perangkat trauma post-kolonial.
Buku Terlontar ke Masa Silam tampil dengan penceritaan yang sederhana. Dalam cerita petualangan tersebut, Djokolelono tidak menciptakan sebuah hukum fisika perjalanan antar waktu. Baginya apa yang telah tersurat dalam sejarah sudah tetap hukumnya, apapun yang Dwiyana lakukan di masa lalu tidak mengakibatkan penulisan ulang sejarah. Waktu berjalan dengan sangat linear. Ia tidak pula mempertimbangkan teori dunia jamak dalam mekanika kuantum. Dimana ketika kita bertualang ke masa lalu dan mengubah sebuah peristiwa, kita dapat menciptakan sebuah realita yang baru dan menuju pada kemungkinan multiverse. Jika Djokolelono mempertimbangkan hal tersebut tentu ia harus menulis cerita ini lebih dari 88 halaman.
Dengan kesederhanaan Terlontar ke Masa Silam adalah cerita tentang pergulatan kita yang tak pernah usai dengan masa lalu dan mesin waktu hanyalah dalih untuk membicarakannya.