Dalam sejarah pemikiran manusia pertanyaan tentang Tuhan dan posisi manusia di alam semesta adalah sebuah pertanyaan yang tua tetapi juga selalu relevan. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir beserta seluruh pirantinya yang membantu observasi alam semesta, sudah begitu banyak misteri yang akhirnya menjadi terang benderang namun pengetahuan tentang Tuhan masih senantiasa terselubung kabut. Film dokumenter The Privileged Planet (2004) yang disutradarai Lad Allen berkolaborasi dengan dua penulis yaitu Jay Richards dan Guillermo Gonzalez dengan cara mereka mengajak kita untuk menalar kemungkinan adanya Tuhan di tengah arus saintisme modern. Film tersebut mengajukan tesis yang provokatif bahwa kondisi yang memungkinkan kehidupan di Bumi seperti atmosfer yang jernih, keberadaan bulan dengan ukuran yang tepat atau juga posisi kita di dalam galaksi Bima Sakti tidak hanya mendukung untuk munculnya kehidupan, tetapi juga secara unik mendukung kemampuan manusia untuk memahami alam semesta sehingga Jay Richards dan Giuillermo Gonzalez menyimpulkan bahwa Bumi adalah planet yang istimewa.
Para penulis dari film The Privileged Planet secara rekam jejak memang dikenal dekat dengan gerakan Intelligent Design. Argumen dasar dari mereka adalah melihat bahwa hubungan antara kemampuan huni dan kemampuan ukur dari bumi ini terlalu sempurna untuk sekedar kebetulan belaka. Kompleksitas konstanta kosmologis yang begitu presisi menunjukkan bahwa alam semesta ini didesain untuk penemuan ilmiah. Tentu saja klaim spektakuler seperti itu tidak akan mulus tanpa kritik. Salah satunya datang dari Prof. Victor J Stenger yang menulis dalam skepticalinquirer.org/ dengan keras menyatakan bahwa The Priviliged Planet adalah sebuah propaganda yang sesat, karena mereka melakukan kesalahan logis dengan mengabaikan prinsip bias seleksi. Menurut Prof. Victor justru manusia dapat hidup di bumi karena kondisinya cocok bukan karena bumi dirancang khusus untuk manusia.
Bagi saya argumentasi yang dipaparkan oleh Jay Richards dan Guillermo Gonzales memang menarik sebagai tawaran untuk kembali memikirkan Tuhan secara serius. The Privileged Planet menyajikan fakta ilmiah tentang kekhususan bumi, namun saya juga merasa bersepakat dengan Prof. Victor J. Stenger, bahwa jika kita interpretasikan kekhususan bumi tersebut sebagai sebuah rancangan cerdas itu adalah sebuah lompatan metafisika. Meskipun dalam film ini tidak ada penyebutan kata “Tuhan”, klaim rancangan cerdas yang menjadi inti argumennya secara implisit mengarah kepada kesimpulan teologis. Jay Richards sendiri dalam begitu banyak wawancara, secara terbuka menyatakan bahwa argumen rancangan cerdas mengarah pada pencipta Ilahiah. Namun, dalam film, keberadaan perancang ini tidak pernah didefinisikan secara jelas, sehingga mustahil untuk menguji prediksi apa pun yang mungkin dihasilkan oleh hipotesis tersebut. Sebuah teori yang baik harus dapat diuji dan melewati falsifikasi empiris. Karena “perancang” dalam film ini tidak memiliki atribut yang dapat diuji secara ilmiah, argumennya berada di luar ranah ilmu pengetahuan dan masuk ke dalam metafisika atau teologi.
The Priviliged Planet sekali lagi memang menawarkan argumentasi yang menggugah, namun belum cukup untuk mengatasi jurang epistemologis yang memisahkan kita dengan realitas transenden. Saya sendiri lebih condong untuk menerima argumen agnostisisme. Jika teisme adalah lompatan iman dan ateisme adalah lompatan skeptisisme, maka agnostisisme adalah sikap berhenti di tepi lompatan bukan karena takut melompat, tetapi karena menyadari bahwa tidak ada peta yang cukup untuk mengukur seberapa jauh lompatan harus dibuat untuk mengatasi jurang epistemologis. Agnostisisme juga menyadarkan kita akan keterbatasan akal yang akan membuka ruang untuk terus bertanya tanpa terjebak dalam klaim-klaim mutlak dan kepastian.
Film The Privileged Planet bisa disaksikan di: https://www.youtube.com/watch?v=QmIc42oRjm8